hadis imam muslim (1)

37. Terjemahan Hadits Shahih Muslim - Kitab ADAB

Kitab Adab

1. Larangan memakai nama julukan Abul Qasim selain Rasulullah dan menerangkan nama-nama yang dianjurkan

•             Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:

Seseorang menyapa temannya di Baqi: Hai Abul Qasim! Rasulullah saw. berpaling kepada si penyapa. Orang itu segera berkata: Ya Rasulullah saw, aku tidak bermaksud memanggilmu. Yang kupanggil adalah si Fulan. Rasulullah saw. bersabda: Kalian boleh memberi nama dengan namaku, tapi jangan memberikan julukan dengan julukanku. (Shahih Muslim No.3974)

•             Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:

Seseorang di antara kami mempunyai anak. Ia menamainya dengan nama Muhammad. Orang-orang berkata kepadanya: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama Rasulullah saw. Orang itu berangkat membawa anaknya yang ia gendong di atas punggungnya untuk menemui Rasulullah saw. Setelah sampai di hadapan Rasulullah saw. ia berkata: Ya Rasulullah! Anakku ini lahir lalu aku memberinya nama Muhammad. Tetapi, orang-orang berkata kepadaku: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama dengan nama Rasulullah saw. Rasulullah saw. bersabda: Kalian boleh memberikan nama dengan namaku, tetapi jangan memberi julukan dengan julukanku. Karena, akulah Qasim, aku membagi di antara kalian. (Shahih Muslim No.3976)

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Abul Qasim, Rasulullah saw. bersabda: Berikanlah nama dengan namaku, tetapi jangan memberikan julukan dengan julukanku. (Shahih Muslim No.3981)

 

2. Sunah merubah nama buruk menjadi nama yang baik, mengubah nama Barrah menjadi Zainab, Juwairiyah dan sebagainya

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Semula nama Zainab adalah Barrah. Orang mengatakan, ia membersihkan dirinya. Lalu Rasulullah saw. memberinya nama Zainab. (Shahih Muslim No.3990)

 

3. Haram hukumnya menamakan dengan Malikul Amlak dan Malikul Muluk (Raja Diraja)

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Dari Nabi saw., beliau bersabda: Nama yang paling jelek di sisi Allah adalah seorang yang bernama Malikul Muluk. Ibnu Abu Syaibah menambahkan dalam riwayatnya: Tidak ada malik (raja) kecuali Allah Taala.. (Shahih Muslim No.3993)

 

4. Sunah mentahnik (mengolesi mulut dengan makanan manis) anak yang baru lahir dan membawanya kepada orang yang saleh agar mentahniknya, boleh memberi nama pada hari kelahirannya, sunah memberi nama dengan Abdullah, Ibrahim dan nama-nama para nabi yang lain

•             Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:

Anakku lahir, lalu aku membawanya kepada Nabi saw., beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya (mengolesi mulutnya) dengan kurma. (Shahih Muslim No.3997)

•             Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

Asma binti Abu Bakar ra. keluar pada waktu hijrah saat ia sedang mengandung Abdullah bin Zubair. Ketika sampai di Quba', ia melahirkan Abdullah di Quba'. Setelah melahirkan, ia keluar menemui Rasulullah saw. agar beliau mentahnik si bayi. Rasulullah saw. mengambil si bayi darinya dan beliau meletakkannya di pangkuan beliau. Kemudian beliau meminta kurma. Aisyah ra. berkata: Kami harus mencari sebentar sebelum mendapatkannya. Beliau mengunyah kurma itu lalu memberikannya ke mulut bayi sehingga yang pertama-tama masuk ke perutnya adalah kunyahan Rasulullah saw. Selanjutnya Asma berkata: Kemudian Rasulullah saw. mengusap bayi, mendoakan dan memberinya nama Abdullah. Tatkala anak itu berumur tujuh atau delapan tahun, ia datang untuk berbaiat kepada Rasulullah saw. Ayahnya, Zubair yang memerintahkan demikian. Rasulullah saw. tersenyum saat melihat anak itu menghadap beliau. Kemudian ia membaiat beliau. (Shahih Muslim No.3998)

•             Hadis riwayat Aisyah ra. bahwa:

Rasulullah saw. dibawakan seorang bayi lalu beliau memberkatinya dan mentahniknya. (Shahih Muslim No.4000)

•             Hadis riwayat Sahal bin Saad ra., ia berkata:

Al-Mundzir bin Abu Usaid, ketika baru dilahirkan, dibawa menghadap Rasulullah saw. Beliau meletakkan di pangkuannya sedangkan Abu Usaid duduk. Lalu perhatian Nabi saw. tercurah pada sesuatu di depan beliau. Maka Abu Usaid menyuruh seseorang mengangkat anaknya dari atas paha Rasulullah saw. dan memindahkannya. Ketika Rasulullah saw. tersadar, beliau bertanya: Mana anak itu? Abu Usaid menjawab: Kami memindahkannya, ya Rasulullah saw. Rasulullah saw. bertanya: Siapa namanya? Abu Usaid menjawab: Fulan, ya Rasulullah saw. Rasulullah saw. bersabda: Tidak, tetapi namanya adalah Mundzir. Jadi, pada hari itu, Rasulullah saw. memberinya nama Mundzir. (Shahih Muslim No.4002)

 

5. Boleh seseorang memanggil anak orang lain dengan ya bunayya (wahai anakku), dan disunatan hal itu untuk berkasih-sayang

•             Hadis riwayat Mughirah bin Syu`bah ra., ia berkata:

Tak seorang pun bertanya tentang Dajjal kepada Rasulullah saw. lebih banyak dari pertanyaanku kepada beliau dalam persoalan itu. Maka beliau bersabda: Wahai anakku! Apa yang membuatmu berpayah-payah memikirkannya? Sesungguhnya ia (Dajjal) tidak bakal membahayakanmu. Aku (Mughirah) berkata: Orang-orang beranggapan, bahwa ia akan memiliki sungai-sungai air dan gunung-gunung roti. Rasulullah saw. bersabda: Yang lebih dari itu, sangat mudah bagi Allah. (Shahih Muslim No.4005)

 

6. Meminta izin

•             Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:

Aku sedang duduk dalam majlis orang-orang Ansar di Madinah lalu tiba-tiba Abu Musa ra. datang dengan ketakutan. Kami bertanya: Kenapa engkau? Ia menjawab: Umar menyuruhku untuk datang kepadanya. Aku pun datang. Di depan pintunya, aku mengucap salam tiga kali tetapi tidak ada jawaban, maka aku kembali. Tetapi, ketika bertemu lagi, ia bertanya: Apa yang menghalangimu datang kepadaku? Aku menjawab: Aku telah datang kepadamu. Aku mengucap salam tiga kali di depan pintumu. Setelah tidak ada jawaban, aku kembali. Sebab, Rasulullah saw. telah bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian minta izin tiga kali dan tidak mendapatkan jawaban, maka hendaklah ia kembali. (Shahih Muslim No.4006)

•             Hadis riwayat Abu Musa Al-Asy`ari ra. bahwa:

Ketika Abu Musa datang kepada Umar bin Khathab, ia mengucap: Assalamu`alaikum, ini Abdullah bin Qais, tetapi tidak ada jawaban, maka sekali lagi ia mengucap: Assalamu`alaikum, ini Abu Musa. Assalamu`alaikum ini Al-Asy`ari. Ketika ia berbalik hendak pulang, Umar muncul dan berkata: Kembali! Kembalilah kemari! Setelah Abu Musa ra. datang, Umar bertanya: Hai Abu Musa ra.! Mengapa engkau cepat-cepat hendak pulang? Kami sedang melakukan suatu pekerjaan. Abu Musa ra. berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Minta izin itu tiga kali. Jika engkau mendapat izin, maka engkau boleh masuk tetapi kalau tidak, maka pulanglah. (Shahih Muslim No.4010)

 

7. Makruh menjawab dengan kata "aku" bagi orang yang minta izin ketika ditanya "siapa ini?"

•             Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:

Aku datang mengunjungi Nabi saw. lalu menyapa kemudian Nabi saw. bertanya: Siapa ini? Aku menjawab: Aku. Nabi saw. lalu keluar seraya berucap: Aku, aku. (Shahih Muslim No.4011)

 

8. Haram memandang ke dalam rumah orang lain

•             Hadis riwayat Sahal bin Saad As-Saidi ra.:

Bahwa seorang lelaki mengintip pada lubang pintu Rasulullah saw. Ketika itu Rasulullah saw. membawa sisir yang beliau gunakan untuk menggaruk kepala. Pada waktu Rasulullah saw. melihat orang itu, beliau bersabda: Seandainya aku tahu engkau memandangku tentu aku tusukkan sisir ini ke matamu. Rasulullah saw. juga bersabda: Sesungguhnya disyariatkan minta izin itu (memasuki rumah) hanyalah untuk menghindari penglihatan. (Shahih Muslim No.4013)

•             Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:

Bahwa seseorang melongok dari salah satu bilik Nabi saw. kemudian Nabi saw. beranjak menghampirinya dengan membawa anak panah bermata lebar. Aku seakan-akan melihat Rasulullah saw. mengintai hendak menikamnya. (Shahih Muslim No.4015)

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Dari Nabi saw., beliau bersabda: Barang siapa melongok ke dalam rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka mereka boleh mencungkil matanya. (Shahih Muslim No.4016)

Tafsir Al-Azim

Surah al Baqarah ayat 87 - 103

Maksudnya: dan Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Nabi Musa Kitab Taurat, dan Kami iringi kemudian daripadanya Dengan beberapa orang Rasul, dan Kami berikan kepada Nabi Isa Ibni Maryam beberapa mukjizat serta Kami teguhkan kebenarannya Dengan Ruhul-Qudus (Jibril). maka patutkah, tiap-tiap kali datang kepada kamu seorang Rasul membawa sesuatu (kebenaran) Yang tidak disukai oleh hawa nafsu kamu, kamu (dengan) sombong takbur (menolaknya), sehingga sebahagian dari Rasul-rasul itu kamu dustakan, dan sebahagian Yang lain pula kamu membunuhnya? (Surah al Baqarah, 2 : 87)
Dalam ayat ini Allah menerangkan kesombongan dan tentangan Bani Israil terhadap para Nabi dan Rasul, dan bahwa mereka hanya menurutkan hawa nafsu. Juga Allah menyebut bahwa Allah telah menurunkan kitab Taurat pada Nabi Musa a.s. Tetapi orang-orang Yahudi mengubah-ubah dan menyalahi hukumnya dan menakwilkannya menurut kepentingan hawa nafsu.
Kemudian Allah mengutus beberapa Rasul sesudah Nabi Musa untuk melaksanakan ajaran kitab Taurat yang sesungguhnya, tetapi Bani Israil (orang Yahudi) menghadapi mereka de­ngan rasa permusuhan sehingga sebagian Rasul itu mereka dustakan sedang sebagian yang lain mereka bunuh.
Aisyah r.a. berkata, "Rasulullah saw. membuatkan mimbar untuk Hassan bin Tsabit di dalam masjid. Maka Hassan selalu membela Rasulullah saw. di atas mimbar itu, sehingga Rasulullah saw. berdoa, "Allahumma ayyid Hassan biruhil qudus ka-maa naa fa an nabiyyika = Ya Allah tolonglah Hassan dengan ruhul qudus, karena ia selalu membela (mempertahankan) NabiMu". (Bukhari).
Di lain riwayat Nabi saw. bersabda kepada Hassan. "Balaslah celaan Quraisy kepada Islam dan Nabi Muhammad saw dan Jibril selalu membantumu".
Abu Hurairah r.a. berkata, "Umar bin al Khathab r.a. masuk masjid sedang Hassan bin Tsabit membacakan syairnya. maka dilihat oleh Umar, maka Hussan berkata, "Dahulu saya membacakan syair di sini ketika di sini ada orang yang lebih haik dari padamu', kemudian Hassan menoleh kepada Abu Hu­rairah dan berkata, 'Saya bertanya kepadamu, demi Allah, apakah anda juga mendengar ketika Rasulullah saw. berkati kepadaku, "Ajib anni Allahumma ayyid hu biruhil qudus = Jawablah mereka atas namaku, ya Allah tolonglah ia dengan ruhul qudus". Jawab Abu Hurairah, "Ya benar."
Ihnu Mas'ud r.a. berkata bahwa Rusulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya ruhul qudus berbisik dalam hati (perasaun)ku, bahwa seseorang takkan mati sehingga menyelesaikan rezeki dun ajalnya. Karena itu bertakwalah kepada Al­lah dan baik-baiklah dalam berusaha mencnrinya. (HR. Ibnu Hibban).
Ruhul qudus; Run berarti Jibril. Al-Qudus suci dan berkat.
Taqtulun; 'Membunuh, digunakun fi'il mudhari' untuk menunjukkan sifat mereka tidak terhenti pada yang suduh dilakukan terhadap Zakariya, Yahya, Isa dan akan membunuh Nabi Muhammad saw. dengah sihir dan racun sehingga Nabi saw. bersabda, "Maa zalat ak latu khaibar tu'aa widuni, faha dza awaa ni inqi thaa'i ab hari".
Selalu pengaruh makanan di Khaibar itu terasa padaku, se­hingga kinilah masa terputusnya urat jantungku.(Bukhari).
(وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ ۚ بَل لَّعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلًا مَّا يُؤْمِنُونَ)
Dan mereka berkata, "Hati kami tetah tertutup, sebaliknya Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka, maka sedikit yang mereka iman. (88).
Ghulfun; berarti tidak dapat mengerti. Juga berarti tertu­tup. Juga berarti hati kami telah penuh dengan ilmu, sebingga tak berhajat kepada ilmumu.
(بَل لَّعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ)
Bahkan Allah telah mengusir dan menjauhkan dari segala kebaikan, sehingga tiada beriman dari mereka kecuali sebagian kecil (sedrkit).

(وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُم مَّا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ)
Dan ketika tiba pada mereka kitab Allah, sesuai dengan apa yang ada pada mereka, padahal sebelum itu mereka mengharap kemenangan pada Allah dengan berkat Nabi yang akan datang, terhadap orang-orang kafir, tetapi keti­ka Nabi dan kitab yang mereka harapkan itu telah tiba dan mereka ketahui, tiba-tiba mereka ingkari (kafir) Terhadapnya, maka laknat kutukan Allah terhadap orang-orang yang kafir (ingkar). (89).
Ibnu Abbas r.a. berkata, "Dahulu orang-orang Yahudi mengharapkan kemenangan ketika berhadapan dengan al-Aus dan al-Khazraj dengan berkat Nabi yang akan tiba di akhir zaman, yakni sebelum diutusnya Nabi saw., tetapi ketika mereka mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi akhir zaman dari bangsa Arab, mereka segera mengingkarinya. Maka mereka ditegur oleh Mu'adz bin Jabal dan Bisyir bin al-Bara bin Ma'rur r.a. dan Dawud bin Salamah, "Hai orang-orang Ya­hudi, bertakwalah kalian kepada Allah dan Islamlah kalian, sebab kalian dahulu selalu mengharap kemenangan ketika menghadapi kami, dengan berkat Nabi Muhammad saw. ketika da­hulu kami masih musyrik, bahkan dalam memberitakan kepada kami bahwa Nabi itu akan diutus bahkan kalian menyebut sifat-sifa tnya." Sallam bin Masykam dari Yahudi Bani an-Nadhir menjawab, "Dia tidak membawakan kepada kami sesuatu yang telah kami ketahui dan bukan itu yang kami sebut-sebut kepada kamu." Maka Allah menurunkan ayat 89 ini.
 
Abul Aliyah berkata, "Dahulu orang-orang Yahudi meng­harap pertolongan Allah dengan berkat Nabi Muhammad saw. yang akan datang ketika menghadapi kaum musyrikin dari bangsa Arab sambil berdoa. "Ya Allah utuslah Nabi yang telah kami ketahui sifatnya yang tercantum dalam kitab Taurat yang ada pada kami, supaya kami dapat menghukum dan membunuh kaum musyrikin. kemudian ketika Nabi Muhammad saw. di­utus, dan mereka mengetahui bahwa dia dari bangsa Arab, lang-sung mereka tentang dan kafir kepadanya, karena hasud iri hati terhadap bangsa Arab, padahal mereka mengetahui benar-benar bahwa ia Rasulullah saw. yang sesungguhnya.

(بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ أَن يَكْفُرُوا بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَن يُنَزِّلَ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ)
Sejahat-jahat perkara (yang mereka lakukan) ialah perbuatan mereka membeli kesenangan dirinya sendiri Dengan mengingkari Al-Quran Yang telah diturunkan oleh Allah, kerana dengki Bahawa Allah menurunkan dari limpah kurniaNya (wahyu) kepada sesiapa Yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya (iaitu Nabi Muhammad s.a.w).
Dengan sebab itu sudah sepatutnya mereka mendapat kemurkaan Allah bertalu-talu, dan orang-orang Yang kafir itu akan beroleh azab sengsara Yang menghinakan. (Surah al Baqarah, 2 : 90)
Orang Yahudi telah memilih untuk diri mereka kafir terha­dap apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. karena hasud iri hati, karena Allah telah menurunkan karunia yang berupa kenabian dan wahyu pada seorang dari bangsa Arab, karena itu mereka kembali mendapat murka Allah, murka Allah yang pertama ketika mereka menyembah anak lembu, dan yang kedua ketika mereka kafir terhadap Nabi Muhammad saw. dan al-Quran. Atau murka yang pertama karena merekit kafir terhadap Nabi Isa a.s. dan kedua ketrka mereka katir ter­hadap Nabi Muhammad saw. dan al-Quran.
Abduilah bin Ami r.a. berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:
manusia, segala sesuatu di alas mereka karena sangat hina-nya, mereka akan masuk ke dalam sel penjara dalam jaha-nam yang bernama paules (boles), di atas mereka tumpu-kan apt, diberi minum dari peluh ahli neruka (darah dan nanah) ahli neraka. Ahmad).
 
(وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاءَ اللَّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ)
(وَلَقَدْ جَاءَكُم مُّوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ)

91. dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu kepada apa Yang telah diturunkan oleh Allah (kepada Nabi Muhammad)", mereka menjawab: "Kami hanya beriman kepada apa Yang telah diturunkan kepada Kami (Taurat)". dan mereka ingkarkan (Kitab) Yang lain Yang diturunkan kemudian daripadanya, padahal Al-Quran itu benar lagi mengesahkan Kitab Taurat Yang ada pada mereka.Katakanlah (Wahai Muhammad): "Jika demikian mengapa kamu membunuh Nabi-nabi Allah pada masa Yang lalu kalaulah kamu benar-benar orang-orang Yang beriman?".
92.dan Sesungguhnya telah datang kepada kamu Nabi Musa membawa keterangan-keterangan (mukjizat) kemudian kamu menyembah (patung) anak lembu sepeninggalannya, dan kamu (dengan perbuatan itu) adalah orang-orang Yang zalim. (Surah al Baqarah, 2 : 91-92)
 
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan kepada kita umat Muhammad saw. sifat orang-orang Yahudi jika diajak beriman kepada al-Quran yang diturunkan Allah kepada Nabi Muham­mad saw. Mereka beralasan, "Kami telah percaya kepada kitab Allah yang diturunkan kepada kami dan kafir dengan lain-lainnya, padahal semua itu dari Allah dan sesuai dengan ajaran yang ada di dalam kitab mereka. Mengapakah kalian membunuh Nabi-nabi yang diutus Allah di antara kamu, jika kalian benar beriman, sebab iman pereaya kepada kitab Allah itu harus melaksanakan semua ajaran tuntunan yang di dalamnya, se­hingga dapat mengikuti semua Nabi dan mempercayai ajaran mercka, tidak hanya mengikuti yang cocok dengan selera nafsu semata-mata dan kafir dengan yang tidak cocok dengan nalsunya.
Kemudian Allah menjelaskan keadaan Yahudi terhadap Nabi Musa a.s. yang telah menyelamatkan mereka, yang telah datang kepada mereka membawa bukti-bukti mukjizat untuk menyatakan bahwa dia benar-benar utusan Allah dan bahwa tiada Tuhan selain Allah, kemudian ditambah dengan kejadian topan (banjir), belahing, kutu, katak dan sungai darah, juga tongkat dan tungan Nabi Musa a.s. sendiri dan naungan awan dan terbelahnya laut dan jaminan al-Manna al Salwa, tetapi begitu ditinggal sementara untuk menerima kitab Allah, tiba-tiba mereka sudah tersesat dan menyembah anak lembu yang dibuat oleh Samiri.
Demikianlah jiwa dan sifat kaum Yahudi dalam beraguma, dan demikian itu jauh daripada iman yang sesungguhnya.
(وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا ۖ قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۚ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُم بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ)
Dan (ingatlah) ketika Kami mengikat perjanjian setia Dengan kamu semasa Kami angkatkan bukit Tursina itu ke atas kamu (sambil Kami berfirman): "Ambilah (dan amalkanlah ajaran Kitab Taurat) Yang Kami berikan kepada kamu itu Dengan bersungguh-sungguh, dan dengarlah (Apa Yang diperintahkan kepada kamu Dengan mematuhinya)". mereka menjawab: "Kami dengar, dan Kami menderhaka". sedang kegemaran menyembah (patung) anak lembu itu telah mesra dan sebati di Dalam hati mereka, Dengan sebab kekufuran mereka. Katakanlah (Wahai Muhammad):" amatlah jahatnya apa Yang disuruh oleh iman kamu itu kalaulah kamu orang-orang Yang beriman". (Surah al Baqarah, 2 : 93)
Demikianlah contoh kekurangan kaum Yahudi, dalam me­nerima segala perjanjian, tidak suka menerima dengan cara yang baik, minta dipaksakan dan bila telah dipaksakan, mereka terima untuk mendengar semata-mata, tetapi tidak untuk menaatinya, dan jiwa yang sedemikian terhadap ajaran Allah, adalah jiwa yang kafir, karena itu mudah dipengaruhi oleh penyembahan terhadap anak lembu, karena itu Allah menyuruh kita menempelak mereka dengan kalimat, "Sungguh sangat je­lek tuntunan imanmu jika kamu mengakui beriman, tetapi masih saja terpengaruh oleh benda-benda sehingga menyembah se­suatu selain dari Allah".
Abu Darda' r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda:
cintamu pada sesuatu membutakan dan memekakkan menyebabkan anda buta tidak mau melihat yang lain, dan menjadikan pekak tidak suka mendengar nasihat siapa pan jua. (HR. Ahmad" dan Abu Dawud).
As-Suddi berkata, "Nabi Musa a.s. mengambil patung anak lembu dibuat dari emas dan disembah oleh Bani Israil, lalu dikikir sehingga menjadi debu lalu dibuang di laut.
Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, "Sengaja Nabi Musa mengikir patung anak lembu yang disembah oleh Bani Israil ke tepi laut, maka tiada seorang yang minum dari air laut itu melainkan kuning wajahnya bagaikan emas."
(قُلْ إِن كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِندَ اللَّهِ خَالِصَةً مِّن دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ( 94
(وَلَن يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ( 95
(وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَن يُعَمَّرَ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ( 96
94.Katakanlah (Wahai Muhammad kepada kaum Yahudi): "Kalau syurga negeri akhirat itu telah menjadi hak istimewa untuk kamu pada sisi hukum Allah, tidak boleh dicampuri oleh orang-orang lain (seperti Yang kamu dakwakan itu), maka cita-citakanlah mati (supaya kamu dimatikan sekarang juga), jika betul kamu orang-orang Yang benar".
95. dan sudah tentu mereka tidak akan mencita-citakan mati itu selama-lamanya, Dengan sebab dosa-dosa Yang telah mereka lakukan; dan Allah sentiasa mengetahui akan orang-orang Yang zalim itu.
96. Demi Sesungguhnya Engkau (Wahai Muhammad) akan dapati mereka itu setamak-tamak manusia kepada hidup (yang lanjut masanya), dan (lobanya mereka kepada hidup itu) melebihi loba orang-orang kafir musyrik. tiap-tiap seorang dari mereka suka kiranya ia boleh hidup seribu tahun, padahal umur panjang Yang demikian, tidak akan dapat melepaskannya dari azab (yang disediakan oleh Allah). dan (ingatlah), Allah sentiasa melihat akan apa Yang mereka lakukan. (Surah al Baqarah, 2: 94-96)
Dalam ayat ini Allah menuntun kepada Nabi Muhammad saw. untuk menentang orang Yahudi yang mengatakan bahwa surga di akhirat itu khusus untuk mereka. Jika benar pengaku­anmu bahwa surga di akhirat khusus untuk kamu, katakanlah aku ingin mati, supaya lekas kembali ke akhirat (surga).
Ibnu Abbas r.a. berkata, "Andaikan orang Yahudi itu ber­kata "Ingin mati pasti mereka akan mati". Bahkan andaikan mereka berkata "Ingin mati" nescaya akan tersendat oleh liur-nya dan mati.
Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
Andaikan orang-orang Yahudi berani menyatakan ingin mati, pasti mereka akan segera mati, dan akan melihat tempat mereka dalam neraka. Dan andaikan orang yang mengajak mubahalah itu- berani keluar berhadapan denganRasulullah saw. pasti mereka akan kembali habis binasa harta dan keluarganya.
Ayat ini bersamaan dengan ayat 67 surat al-Jumuah.
Sedang pengakuan bahwa surga itu mnnopoli untuk mere­ka sama dengan ayat 111 surat al-Baqarah.
Ayat Mubahalah dahim surat AH Imran ayat 61.
Wamaa huwa bimuzahzihihi; Dan tidak dapat menyelamat-kan diri dari siksa walaupun lanjut umur.
(قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ)
97. Katakanlah (Wahai Muhammad): "Sesiapa memusuhi Jibril maka sebabnya ialah kerana Jibril itu menurunkan Al-Quran ke Dalam hatimu Dengan izin Allah, Yang mengesahkan kebenaran Kitab-kitab Yang ada di hadapannya (yang diturunkan sebelumnya), serta menjadi petunjuk dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Yang beriman". (Surah al Baqarah, 2 : 97)
 
(مَن كَانَ عَدُوًّا لِّلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ)
sesiapa memusuhi Allah (dengan mengingkari Segala petunjuk dan perintahNya) dan memusuhi Malaikat-malaikatNya dan Rasul-rasulNya, khasnya malaikat Jibril dan Mikail, (maka ia akan diseksa oleh Allah) kerana Sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir. (Surah al Baqarah, 2 : 98)
Ibnu Jarir at-Thabari berkata, "sepakat ahli-ahli tafsir bah­wa ayat ini diturunkan sebagai jawaban terhadap pernyataan Bani Israil hahwa mereka musuh pada Malaikat Jibril. Kemudian mereka berbeda pendapat mengenai sebab turunnya.
Ibnu Abbas r.a. berkata, "Telah datang rombongan Yahu­di kepada Rasulullah saw. lalu mereka bertanya, 'Ya Abal Qa-sim beritahukan kepada kami beberapa soal yang kami ajukan ini yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi'. Jawab Nabi saw., "Bertanyalah sesukamu, tetapi aku minta janji sebagaimana yang diambil oleh Yaqub terhadap putra-putranya, jika aku telah menerangkan kepadamu, dan kamu mengetahui itu benar harus kalian ikut kepadaku masuk Islam". Jawab-mereka, Terserah kepadamu', Maka Rasulullah saw. bersabda: "Tanyakan apa yang kamu suka". Maka mereka bertanya, 'Beritakan kepada kami makanan apakah yang telah diharamkan oleh Israil (Yaqub) atas dirinya sebelum turun Taurat! Beritakan kepada kami air mani lelaki dan wanita, dan bagaimana jadinya anak laki-Iaki dan perempuan! Beritakan kepada kami tentang Nabiyil Ummi yang tersebut dalam Taurat! Dan siapakah walinya dari Malaikat?' Jawab Nabi saw., "Kamu tetap menepati janji Allah jika aku beritakan kepadamu kamu harus mengikuti aku!" Lalu mereka berjanji menurut apa yang diminta oleh Rasulullah saw. Kemudian Nabi saw. bersabda, "Aku tuntut kamu demi Allah yang menurunkan Taurat kepada Nabi Musa, apakah kamu mengetahui bahwa Israil (Yaqub) menderita sakit yang agak lama dan berat, sehingga bernazar, jika Allah menyembuhkan penyakitnya, maka ia akan mengharamkan atas dirinya sendiri ma¬kanan dan minuman yang sangat disuka, sedang makanan dan minuman yang sangat disuka ialah daging unta dengan susunya?" Jawab mereka, 'Ya, benar'. Rasulullah saw. bersabda, "Ya Allah saksikanlah mereka itu. Dan aku sumpah kamu demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia yang menurunkan Taurat kepada Nabi Musa, kamu ketahui bahwa air mani lelaki putih kental sedang mani perempuan kuning cair, maka yang mana di antara keduanya ke atas maka anak menyerupainya dengan izin Allah. Jika mani lelaki di atas maka menjadi anak lelaki, dan bila mani perempuan di atas maka jadi anak perempuan dengan izin Allah Ta'ala". Jawab mereka, 'Ya Allah, ya benar'. Nabi saw. bersabda, "Ya Allah saksikanlah. Dan aku sumpah kamu dengan nama Allah yang menurunkan Taurat atas Musa, kamu mengetahui bahwa Nabiyil Ummi itu jika tidur memejamkan kedua matanya, tetapi tidak tidur hatinya". Jawab mereka, 'Ya Allah, ya benar'. Nabi saw. bersabda, "Ya Allah saksikanlah mereka". Lalu mereka berkata, 'Kini terangkan kepada kami siapa yang datang kepadamu dari Malaikat, di sini kami jadi mengikuti engkau atau tidak'. Jawab Nabi saw., "Waliku Jibril, dan Allah tiada mengutus seorang Nabi melainkan Jibrillah wali yang menurunkan wahyu-Nya". Orang-orang Yahudi berkata, 'Di sinilah kami berpisah denganmu. Andaikan yang datang ke¬padamu lain dari Jibril, kami tetap mengikutimu. Lalu ditanya, "Mengapakah kalian, apakah yang mencegah kamu untuk membenarkannya?" Jawab mereka, 'Jibril itu musuh kami. Maka Allah menurunkan ayat 97-98 ini.
Ibnu Abbas r.a. berkata, "Rombongan orang Yahudi datang dan bertanya kepada Nabi saw., 'Ya Abal Qasim berita¬kan kepada kami lima macam, jika engkau dapat memberitakan kepada kami, maka benar kau Nabi dan kami akan ikut kepa¬damu, maka Nabi saw. mengikat janji sebagaimana Yaqub (Israil) berwasiat kepada putranya dan berkata, Demi Allah sebagai saksi atas semua yang kami katakan. Nabi saw. bersabda, "Silakan pertanyaanmu". Mereka bertanya, 'Beritakan tanda Nabi!' Jawab Nabi saw., "Terpejam kedua matanya dan tidak tidur hatinya". Lalu ditanya, 'Bagaimanakah anak lahir, laki-laki atau perempuan?' Jawab Nabi, "Bertemu mani suami dengan mani istri, maka yang mana yang lebih tinggi menjadi, jika ma¬ni wanita jadi wanita, dan bila mani pria maka jadi pria". Me¬reka bertanya, 'Apakah yang diharamkan oleh Israil atas diri¬nya sendiri?' Jawab Nabi saw., "Dahulu Israil (Yaqub) mende¬rita sakit reumatik, dan tiada yang cocok untuk itu kecuali susu unta, maka ia lalu mengharamkan dagingnya". Jawab mereka, 'Benar engkau, lalu beritakan apakah suara petir itu? Jawab Nabi saw., "Malaikat yang menghalau awan, di tangannya tongkat (pentung) dari api untuk menghalau awan ke arah yang di-perintah Allah". 'Lalu apakah suara itu?' Jawab Nabi saw., "Ya itu suaranya". Mereka berkata, 'Benar engkau dan kini tinggal satu yang akan menentukan apakah kami mengikutimu atau ti¬dak, yaitu tiap Nabi didatangi Malaikat yang membawa wahyu kepadanya, maka siapakah yang datang kepadamu?' Jawab Na¬bi saw., "Jibril a.s." Mereka berkata, 'Jibril itu yang mendatangkan perang dan siksa, dia musuh kami, andaikan engkau sebut Mikail maka ia yang mewbawa rahmat, hujan dan tumbuhan-tumbuhan'. Maka Allah menurunkan ayat 97-98 ini. (R. Ahmad, an-Nasa'i dan af-Tirmidzi).
Anas bin Malik berkata bahwa Abdullah bin Salam ketika berada di kebunnya tiba-tiba mendengar berita bahwa Rasulul¬lah saw. telah tiba di Madinah. Maka segera pergilah dia untuk berternu dengan Nabi saw. Dan ketika bertemu ia berkata, "Aku akan bertanya kepadamu tiga macam yang tidak diketahui kecuali oleh Nabi, 1. Apakah tanda hari kiamat? 2. Apakah makanan ahli surga? 3. Bagaimanakah janin itu menjadi lelaki atau perempuan?' Jawab Nabi saw., "Aku telah diberitahu oleh Jibril tadi". Abdullah bin Salam bertanya, 'Jibril?' Jawab Nabi saw., !'Ya". Abdullah berkata, 'Itu musuh orang Yahudi. Ma¬ka dibacakan oleh Nabi saw. Ayat 97. Adapun tanda hari kia¬mat maka api akan menghalau orang-orang dari Timur ke Barat. Adapun makanan ahli surga maka hati ikan, dan bila mani laki-laki mendahului mani perempuan maka anak menjadi lelaki, dan bila mani perempuan mendahului mani laki-laki maka akan menjadi anak perempuan". Abdullah bin Salam berkata, "Asy-hadu an laa ilaha illallah, wa annaka Rasulullah. (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwa engkau utusan Allah). Ya Rasulullah. orang Yahudi itu kaum yang gemar berdusta dan memalsukan, dan jika mereka mengetahui tentang Islamku sebelum engkau bertanya kepada mereka pasti mereka memalsukan aku', tiba-tiba datang kaum Yahudi sedang Abdullah bin Salam bersembunyi. Maka Nabi saw. bertanya kepada orang-orang Yahudi, "Siapakah Abdullah bin Salam di antara kalian?" Jawab mereka, 'Itu orang baik dan turunan orang baik, bahkan ia pimpinan kami dan turunan orang terkemuka di antara kami'. Nabi saw. bertanya, "Bagaimanakah jika dia masuk Islam?" Jawab mereka, 'A'udzahullahu min dzalika. (Semoga Allah melindunginya dari itu)'. Lalu keluarlah Abdullah bin Salam sambil membaca, 'Asyhadu an laa ilaha illallah wa asy hadu anna Muhammad Rasulullah'. Maka orang Yahudi langsung berbalik dan berkata, 'Itu orang yang sangat jelek dan turunan orang yang jahat di antara kami'. Lalu mereka menghina kepada Abdullah bin Salam. Abdullah bin Salam berkata, 'Ilulah ya Rasulullah yang aku khawatirkan dari mereka' (yakni jika tidak ditanya lebih dahulu)'. (HR. Bukhari).
Ibnu Jarir berkata, "Ada pendapat bahwa turunnya ayat ini karena perdebatan yang terjadi antara orang-orang Yahudi dengan Umar bin al-Khathab mengenai Nabi saw"
Umar bin alrKhathab r.a. pergi ke ar-Rauha, tiba-tiba melihat orang-orang berlari-lari ke suatu batu untuk bersembahyang. Umar bertanya, "Mengapakah orang-orang itu?" Mereka mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah salat di situ. Maka Umar menyalahkan perbuatan itu dan berkata, "Di mana saja Nabi saw. mendapati waktu salat, maka ia akan salat di situ, kemudian pergi meninggalkannya". Kemudian Umar bercerita. "Dahulu aku pernah hadir ke tempat pengajian orang Yahudi, maka aku kagum bagaimana Taurat sesuai dan membenarkan ajaran al-Quran, dan sebaliknya al-Quran juga membenarkan ajaran dalam Taurat, maka pada suatu hari mereka berkata, "Hai putra al-Khathab tiada orang dari kawan-kawanmu yang kami sukai seperti anda". Aku bertanya, "Mengapakah itu?" Jawab mereka, "Karena anda suka datang ke tempat kami". Jawabnya, "Aku datang karena aku kagum bagaimana al-Quran membenarkan apa yang ada di Taurat dan juga Taurat membenarkan ajaran al-Quran". Kemudian Rasulullah saw. berjalan di situ maka mereka berkata, "Itulah kawanmu maka pergilah kepadanya". Maka aku bertanya kepada mereka, "Aku bersumpah demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia dan dengan apa yang Allah titipkan kepadamu dari ajaran kitabNya, apakah kalian telah mengetahui bahwa ia Rasulullah?" Maka mereka diam. Maka berkata guru dan pimpinan mereka, "Dia telah keras kepadamu, maka jawablah!" Jawab mereka, "Engkau sebagai pimpinan maka jawablah!" Lalu ia berkata, "Adapun jika anda menyumpah kami demikian maka kami mengetahui bahwa ia Rasulullah". Umar berkata, "celaka kalian jika demikian, berarti kamu binasa". Jawab mereka, "Kami tidak binasa". Umar bertanya, "Bagaimana tidak sedang kalian mengetahui bahwa ia adalah Rasulullah, lalu kalian tidak mengikutinya dan tidak percaya kepadanya". Jawab mereka, "Sebab kami mempunyai kawan dan musuh dari Malaikat dan kenabiannya dipimpin oleh musuh kami". Lalu ditanya oleh Umar, "Siapakah musuhmu, dan siapakah kawanmu?" Jawab mereka, "Musuh kami Jibril dan kawan kami Mikail, Jibril malaikat yang menurunkan kesengsaraan dan siksa, sedang Mikail malaikat yang membawa rahmat". Lalu ditanya oleh Umar, "Bagaimanakah kedudukan keduanya di sisi Tuhan?" Jawab mereka, "Yang satu di sebelah kananNya, sedang yang lain di sebelah kiriNya". Umar berkata, "Demi Allah yang tiada Tuhan keeuali Dia, dan Allah yang di antara keduanya' pasti akan memusuhi siapa yang memusuhi keduanya dan membantu siapa yang suka kepadanya".
Dan tidak mungkin Jibril akan suka kepada musuh Mikail, juga Mikail tidak mungkin suka kepada musuh Jibril. Kemudian Umar bangun dan mengejar Nabi saw. yang sedang keluar dari kampung Bani Fulan. Nabi saw. bertanya, "Hai Ibn al-Khathab sukakah aku bacakan kepadamu ayat-ayat yang baru turun, lalu dibacakan oleh Nabi saw. ayat 97 - 98 ini". Maka Umar berkata, "Ya Rasulullah demi Allah yang mengutusmu dengan hak, aku datang untuk memberitahu kepadamu, tetapi kini aku telah didahului oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui sedalam-dalamnya segala kejadian".
Ibnu Jarir mengatakan bahwa Qatadah berkata, Diberitahukan kepada kami bahwa pada suatu hari Umar bin al-Khathab pergi ke tempat orang-orang Yahudi dan ketika ia datang disambut dengan meriah dan suka oleh mereka. Umar berkata, "Demi Allah aku tidak datang karena suka kepadamu, tetapi hanya akan mendengar dari padamu". Lalu mereka bertanya kepadanya, "Siapakah Malaikat yang datang kepadanya itu". Jawab Umar, "Jibril". Mereka berkata, "Itu musuh kami dari penduduk langit dia telah membuka rahasia kami kepada Muhammad saw. dan dia biasa mendatangkan perang dan laip (kahat). tetapi kawan kami Mikail jika ia turun membawa damai dan kesuburan rezeki". Umar bertanya, "Apakah kalian kenal dengan Jibril dan menentang Nabi Muhammad saw?" Lalu Umar pergi dari mereka ke tempat Nabi saw. untuk menceriterakan kejadian itu, tiba-tiba turun ayat 97 - 98 ini.
Ibnu Abi Laila mengatakan bahwa orang Yahudi berkata kepada orang Muslimin, "Andaikan yang turun kepada Nabimu itu Malaikat Mikail pasti kami akan mengikuti kamu, sebab Mikail menurunkan hujan dan rahmat sedang Jibril menurunkan siksa dan balusan, dan dia musuh kami".
Adapun tafsir 97, "Bahwa siapa yang memusuhi Jibril, maka hendaknya mengetahui bahwa Jibril itu adalah Ruhul Amin yang turun membawa ayat-ayat Quran yang langsung ke dalam hatimu dengan izin Allah, maka ia seorang utusan (pesuruh) Allah dari bangsa Malaikat, dan siapa yang memusuhi seorang pesuruh berarti memusuhi semua pesuruh, sebagaimana siapa yang percaya kepada seorang Rasul harus percaya kepada semua Rasul, demikian pula siapa yang memusuhi Jibril' maka berarti memusuhi Allah, sebab Jibril hanya pesuruh yang diutus Allah untuk menyampaikan firman-Nya, dan bukan kemauan sendiri.
Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulutlah saw. bersabda bahwa Allah berfirman:
Siapa yang memusuhi seorang waliKu (kekasihKu), maka ia telah melawan Aku untuk berperang. (HR. Bukhari, Muslim).
Jibril bertugas menurunkan wahyu untuk memberi hidayat kepada umat manusia, sedang Mikail bertugas menurunkan hujan dan tumbuh-tumbuhan sebagaimana Israfil bertugas meniup sangkakala, sebagaimana tersebut dalam hadis sahih Nabi saw. jika bangun di waktu malam membaca:
Wahai Tuhannya Jibril, Mikail dan Israfil, Tuhan yang mencipta langit dan bumi. yang mengetahui segala yang gaib dan yang terang. Engkau menghukum di antara hamba-hambaMu dalam segala perselisihan mereka, pimpinlah aku dalam apa yang diselisihkan itu kepada yang hak dengan izinMu, sungguh Engkau yang memimpin siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.
Dan arti "Iel" ialah Allah, maka Jibril, Mikail dan Israfil berarti hamba Allah.
Kemudian Allah menyatakan seeara umum, siapa yang memusuhi Allah dan MahiikatNya atau Utusun-Nya atau Jibril, Mikail, maka Allah menyatakan musuh pada semua orang kafir.
Dan siapa yang memusuhi kekasih Allah berarli musuh pada Allah, sedang siapa yang memusuhi Allah rugi dunia akhirtt, sebagaimana tersebut dalam hadis: "Siapa yang memusuhi waliKu (kekasihKu) maka Aku maklumkan kepadanya "perang". Di lain hadis, "Sungguh Aku menuntut balas untuk para waliKu sebagaimana harimau (singa) yang sangat marah". Dan hadis, "Siapa yang melawan Aku pasti Aku binasakan".

(وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۖ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلَّا الْفَاسِقُونَ)
Dan sungguh Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas, dan takkan ingkar (kafir) kepadanya kecuah orang-orang fasik. (99).

(أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَّبَذَهُ فَرِيقٌ مِّنْهُم ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ)
100. Patutkah (Mereka ingkarkan ayat-ayat keterangan itu) dan Patutkah tiap-tiap kali mereka mengikat perjanjian setia, dibuang dan dicabuli oleh segolongan dari mereka? bahkan kebanyakan mereka tidak beriman.

(وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ)
101. dan apabila datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah (Nabi Muhammad s.a.w), Yang mengesahkan apa Yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang Yang telah diberikan Kitab itu melemparkan Kitab Allah ke belakang mereka, seolah-olah mereka tidak mengetahui (kebenarannya).

(وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ)
102. mereka (membelakangkan Kitab Allah) dan mengikut ajaran-ajaran sihir Yang dibacakan oleh puak-puak Syaitan Dalam masa pemerintahan Nabi Sulaiman, padahal Nabi Sulaiman tidak mengamalkan sihir Yang menyebabkan kekufuran itu, akan tetapi puak-puak Syaitan itulah Yang kafir (dengan amalan sihirnya); kerana merekalah Yang mengajarkan manusia ilmu sihir dan apa Yang diturunkan kepada dua malaikat: Harut dan Marut, di negeri Babil (Babylon), sedang mereka berdua tidak mengajar seseorang pun melainkan setelah mereka menasihatinya Dengan berkata: "Sesungguhnya Kami ini hanyalah cubaan (untuk menguji imanmu), oleh itu janganlah Engkau menjadi kafir (dengan mempelajarinya)". Dalam pada itu ada juga orang-orang mempelajari dari mereka berdua: ilmu sihir Yang boleh menceraikan antara seorang suami Dengan isterinya, padahal mereka tidak akan dapat sama sekali memberi mudarat (atau membahayakan) Dengan sihir itu seseorang pun melainkan Dengan izin Allah. dan sebenarnya mereka mempelajari perkara Yang hanya membahayakan mereka dan tidak memberi manfaat kepada mereka. dan Demi Sesungguhnya mereka (kaum Yahudi itu) telahpun mengetahui Bahawa sesiapa Yang memilih ilmu sihir itu tidaklah lagi mendapat bahagian Yang baik di akhirat. Demi Sesungguhnya amat buruknya apa Yang mereka pilih untuk diri mereka, kalaulah mereka mengetahui.

(وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ)
103. dan kalau sebenarnya mereka itu tetap beriman dan bertaqwa (nescaya mereka akan mendapat pahala); Sesungguhnya pahala dari sisi Allah itu adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.
 
Ibnu Jarir berkala, "Sungguh Aku telah menurunkan kepadamu ya Muhammad bukti-bukti yang jelas untuk menunjukkan kebenaran kenabianmu, yaitu rahasia-rahasia ilmu kaum Yahudi, dan berita-berita yang dalam kitab mereka yang tidak diketahui kecuali oleh guru-guru dan ulama mereka.
Maka Allah telah menurunkan dalam al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, segala apa yang terkandung dalam Taurat, untuk menguatkan bukti kebenaran Nabi Muhammad saw. sehingga memudahkan bagi orang yang jujur untuk dapat membenarkan dan mengakui kebenaran Nabi Muhammad dan akan membinasakan dirinya dengan hasud, iri hati dan aniaya.
Ibnu Abbas r.a. berkata bahwa Ibnu Shuriya al-Quth Wini berkata kepada Nabi Muhammad saw., "Ya Muhammad anda tidak membawa sesuatu yang telah kami ketahui, dan Allah tidak menurunkan kepadamu suatu bukti untuk kami ikut kepadamu. Maka Allah menurunkan ayat 99 ini.
Ketika Nabi Muhammad saw. telah diutus, kemudian mengingatkan kaum Yahudi tentang janji dan tugas yang diberikan Allah supaya mereka percaya kepada Nabi Muhammad saw., tiba-tiba Malik bin as-Shaif berkata, "Demi Allah tidak ada pesan atau janji yang ditugaskan Allah kepada kami mengenai Muhammad saw. sehingga Allah menurunkan ayat ke-100 ini.
AI-Hasan al-Bashri berkata, "Benar tiada suatu pesan dan janji di atas bumi ini melainkan mereka menyalahinya, ini hari berjanji dan esok harinya mereka menyalahinya.
As-Suddi mengartikan; Tidak pereaya, kepada apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Arti Nabadzahu ialah "membuang". Allah menecla kaum Yahudi karena mereka selalu menyalahi dan mengabaikan tugas janji dan pesan Allah dan Rasulullah dan tidak menepati apa yang diamanatkan kepada mereka.
Karena itu dalam ayat 101 ini Allah menceritakan ketika datang kepada mereka Utusan Allah yang membenarkan ajaran yang ada dalam kitab mereka maka sebagian dari ahlil kitab telah membuang kitab Allah di belakang punggung mereka, seakan-akan mereka tidak mengetahui ajaran Allah yang ada dalam kitab mereka itu, lalu mereka sibuk mempelajari ilmu sihir dan mengikutinya, karena itu mereka lalu berusaha akan menyihir Rasulullah saw. yang mana usaha itu dikepalai oleh Labid bin al-A'sham, tetapi kemudian Allah memberitahu kepada Nabi Muhammad saw. dan menyembuhkannya, sebagaimana yang tersebut hadisnya dalam sahih Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a.
As-Suddi berkata, "Ketika datang Nabi Muhammad saw. membawa ajaran Allah kepada mereka, pertama mereka tentang dengan isi kitab Taurat, tetapi ketika nyata bahwa al-Quran itu tidak bertentangan dengan Taurat maka mereka tinggalkan kitab Taurat, lalu merka berpegang kepada kitab Aas-Shif dan sihir Harut wa Marut, yang tidak sesuai dengan ajaran al-Quran, seakan-akan mereka tidak mengetahui isi Taurat yang mereka sembunyikan itu.
Ibnu Abbas r.a. berkata, "Aa-Shif itu penulis Nabi Sulaiman dan ia mengetahui Al ismul a'dzam, dan ia biasa menulis apa yang diperintahkan oleh Nabi Sulaiman kemudian menenumnya di bawah kursi Nabi Sulaiman, kemudian sesuduh mati Nabi Sulaiman, tulisan itu dikeluarkan oleh setan lalu ditambah pada tiap dua baris ajaran sihir dan kufur, lalu mereka sebarkan bahwa itulah yang dikerjakun oleh Nabi Sulaiman, sehingga orang-orang yang terpengaruh kemudian memaki dan mengkafirkan Nabi Sulaiman, tetapi para Ulama tidak percaya pada issu dan provokasi itu, sehingga turunlah ayat 102 ini:
"Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan setan pada kerajaan Sulaiman padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi setan itu kafir. mengajarkan sihir kepada manusia".
Ibnu Abbas r.a. berkata, "Biasanya Nabi Sulaiman a.s. jika akan ke tandas menitipkan cincinnya kepada istrinya al-Jaradah, dan ketika Allah akan mengujinya, ia menitipkan cincinnya kepada al-Jaradah tiba-tiba datang setan berbentuk seperti Nabi Sulaiman, lalu meminta cincin itu dari al-Jaradah. Dan setelah dipakai cincin itu semua tentara Jin tunduk kepadanya. Kemudian datang Nabi Sulaiman meminta cincinnya dari al-Jaradah maka jawab al-Jaradah, "Dusta anda bukan Sulaiman", maka Nabi Sulaiman merasa bahwa ia telah mendapat ujian Allah. Maka pada saat itu setan membuat tulisan kitab untuk sihir, dan kesemuanya itu kemudian ditanam di bawah kursi Nabi Sulaiman, kemudian sesudah Nabi Sulaiman meninggal, mereka berusaha mengeluarkannya dan berkata, "Nabi Sulaiman dahulu dapat menundukkan manusia dan jin hanya dengan ilmu sihir ini sehingga orang-orang percaya dan menganggap bahwa Nabi Sulaiman bukan Nabi, sehingga diutusnya Nabi Muhammad saw. dan turunnya ayat, "Wa maa kafara Sulaiman wa laakin-nasy-syayaa thina kafaru yu allimunanna sashihra — Dan tiada kafir Nabi Sulaiman tetapi setan-setan itu kafir mengajarkan kepada manusia ilmu sihir".
Ibnu Jarir meriwayalkan dari Imran al-Harits berkata. "Ketika, kami di majelis Ibnu Abbas r.a. tiba-tiba ada seorang datang, maka ditanya, "Dari mana anda?" Jawabnya, "Dari Iraq". "Dari kola mana?" "Dari Kufah". "Lalu bagaimana kabar di sana?" Jawabnya, "Saya tinggalkan orang-orang di sana". Berkata Ali Abi Thalib akan hidup kembali kepada mereka, Ibnu Abbas berkata, "celaka anda, andaikan ia akan hidup kembali niscaya kami tidak membagi warisnya dan tidak akan mengawini bekas istrinya. tetapi saya beritakan kepadamu bahwa setan itu selalu mencuri berita langit, yaitu bila Malaikat menerima perintah apa-apa yang terjadi esok hari dari sesuatu yang berupa gaib, lalu setan itu pergi ke dukun, memberitakan kepada dukun berita itu yang benar, tetapi lalu ditambah dengan tujuh puluh berita yang dusta, dan orang-orang yang telah mempercayai yang benar dengan berita yang dusta sekali karena mereka tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang dusta, maka ketika Nabi Sulaiman mengetahui bahwa orang-orang telah berbuat ilmu sihir maka segera dirampas kitab yang ada pada mereka dan ditanam di bawah kursinya, kemudian ketika Nabi Sulaiman telah meninggal, datang setan di tengah jalan dan memberitahu kepada orang-orang, "Jika kalian ingin kerajaan dan ilmu Sulaiman, maka galilah di bawah kursi Nabi Sulaiman". Dan ketika telah digali dan mendapatkan catatan-catatan itu mereka berkata, "Mungkin Sulaiman itu jayanya dari ini!" Maka Allah berfirman, "Dan mereka telah mengikuti apa yang dibacakan setan di masa kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir tetapi setan itu kafir mengajarkan kepada manusia itu sihir".
Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata, "Setan ketika mengetahui bahwa Nabi Sulaiman telah mati mereka mencatat beberapa ajaran sihir'.
Siapa yang ingin begini harus berbuat ini, setelah banyak mereka kumpulkan sehingga berupa buku, mereka membuat stempel yang serupa dengan cincin Nabi Sulaiman, lalu diberi nama: Inilah yang ditulis oleh Aashif bin Barkhiya untuk raja Sulaiman bin Dawud dari berbagai macam perbendaharaan ilmu, kemudian semua itu ditanam di bawah kursi Nabi Sulaiman, kemudian setelah berjalan lama diketemukan oleh sebagian orang-orang Bani Israil lalu mereka berkata, "Demi Allah kekuasaan Sulaiman dahulu tidak lain dari ilmu ini, lalu mereka sebarkan kepada orang-orang". Maka ketika Rasulullah saw. dituruni wahyu yang menerangkan bahwa Sulaiman termasuk Nabi Utusan Allah, maka orang-orang Yahudi di Madinah berkata, "Tidakkah kalian ajaib dari Muhammad, dia menyebut Sulaiman bin Dawud sebagai Nabi, demi Allah ia hanyalah seorang ahli sihir, sehingga Allah menurunkan ayat,
(وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا)
Dan mereka telah mengikuti apa yang diajarkan setan-setan di masa kerajaan Sulaiman, dan sekali-kali Sulaiman tidak kafir tetapi setan-setan itu yang kafir mengajarkan sihir kepada manusia".
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Syahr bin Hausyab, "Pada saat tercabut kerajaan Sulaiman maka setan-setan mengambil kesempatan menulis ilmu sihir - Siapa yang ingin begini harus menghadap matahari dan membaca ini-ini, dan siapa yang ingin begini maka harus membelakangi sambil membaca ini-ini - Kemudian kumpulan buku itu diberi judul "Inilah yang ditulis oleh Aashif bin Barkhiya untuk raja Sulaiman dan inilah ilmu rahasia", kemudian buku itu ditanam di bawah kursi Nabi Sulaiman, dan sesudah mati Nabi Sulaiman berdirilah iblis berkhutbah; - Wahai semua manusia sebenarnya Sulaiman bukanlah seorang Nabi melainkan hanyalah seorang ahli sihir, karena itu kalian cari ilmu sihirnya di rumah dan peti-petinya, ketika mereka tidak menemukannya lalu ditunjukkannya tempat yang ia sembunyikan itu, sehingga orang-orang berkata, "Sulaiman bukanlah seorang Nabi tetapi ia hanyalah ahli sihir, ia tidak menundukkan kami melainkan dengan ilmu sihir ini, tetapi kaum Mukminin tetap mengatakan bahwa Sulaiman adalah seorang Nabi dan bukan ahli sihir, kemudian Nabi Muhammad saw. telah diutus dan menyebut Sulaiman di antara para Nabi utusan Allah, orang-orang Yahudi berkata, "Lihatlah Muhammad mencampuradukkan hak dengan batil, dia telah menyebut Sulaiman sejajar dengan Nabi-nabi, padahal ia hanyalah seorang ahli sihir, dapat mempergunakan angin, maka Allah menurunkan ayat 102 ini".

Wa maa unzila alal malakaini; Dan sihir itu juga tidak diturunkan oleh kedua malaikat. Sebab kaum Yahudi menuduh bahwa sihir itu juga diturunkan oleh kedua Malaikat Jibril dan Mikail.
Ibnu Abbas berkata, "Allah tidak menurunkan ilmu sihir atas kedua Malaikat itu". Maka arti ayat, Dan mereka telah mengikuti apa yang diajarkan setan dj masa kerajaan Sulaiman tetapi Sulaiman tidak kafir juga sihir itu tidak diturunkan oleh kedua Malaikat, tetapi setan-setan itulah yang kafir yang mengajarkan kepada manusia ilmu sihir di Babil. Harut dan Marut. Sedang keduanya ini tidak mengajarkan sesuatu kepada manusia keeuali disertai peringatan, "Sesungguhnya kami ini dengan ilmu ini berupa fitnah ujian, sampai di mana kepercayaan manusia terhadap Allah, agama Allah dan syariat-Nya, tetapi manusia terus saja mempelajarinya, terutama sihir yang dapat memisahkan antara suami istri, dan mereka mempelajari apa-apa yang berbahaya bagi mereka sendiri dan sama sekati tidak manfaat (berguna), padahal mereka mengetahui bahwa orang yang mempergunakan sihir itu di akhirat tidak mendapat bahagia, bahkan tidak mendapat bagian nikmat sama sekali. Sungguh sangat jelek pilihan mereka itu, andaikan mereka mengetahui".
Dan telah diriwayatkan mengenai kisah Harut dan Marut dari beberapa ulama tabi'in seperti Mujahid, al-Hasan al-Bashri, as-Suddi, Qatadah, Abul Aliyah, az-Zuhri ar-Rabie' bin Anas dan Muqatil bin Hayyan dan beberapa ahli tafsir, bahwa kesimpulan dari berita Harut dan Marut berasal dari Bani Israil dan tidak ada hadis sahih yang meriwayatkan langsung bersambung kepada Rasulullah saw. Sedang dalam ayat al Quran hanya menyebut garis besar dan tidak memerinci, maka kita hanya percaya apa yang disebut dalam al-Quran tanpa komentar dan Allah yang mengetahui hakikat yang sesungguhnya.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah r.a. yang mengatakan, "Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. meninggal ada seorang wanita datang dari Dumatil Jandal mencari Rasulullah saw. untuk menanyakan sesuatu yang berkenaan dengan sihir yang sudah dipelajarinya tetapi belum pernah dilakukannya."
Dan ketika telah diberitahu bahwa Rasulullah saw. telah meninggal dunia ia menangis tersedu-sedu karena merasa takkan ada orang yang akan dapat memberi fatwa dan jalan keluar baginya, sehingga aku merasa kasihan kepadanya, lalu wanita itu berkata, "Sungguh aku khuwatir celaka dan binasa diriku, adapun ceriteranya: - Aku bersuami, kemudian suamiku itu meninggalkan aku beberapa lama, kemudian datang ke rumahku seorang wanita tua maka aku mengeluh kepadanya kejadian suamiku yang telah lama tidak datang, maka ia berkata, 'Jika anda menurut kepadaku, maka suamimu pasti akan datang'. Aku pun berjanji akan menurut kepadanya, maka wanita tua itu datang kembali kepadaku di waktu malam membawa dua ekor anjing hitam, lalu aku mengendarai yang seeker dan dia mengendarai yang lain, lalu kami pergi hingga sampai di Babil, mendadak aku melihat dua orang, tergantung kaki keduanya di atas pohon, lalu kedua orang itu bertanya kepadaku, 'Mengapa anda datang ke mari?' Jawabku, Akan belajar sihir. Keduanya berkata, 'Kami ini sebagai ujian fitnah karena itu anda jangan menjadi kafir, lebih baik anda kembali', tetapi aku menolak tidak mau kembali. Maka keduanya berkata, 'Jika anda benar-benar maka pergilah ke diang api dan kencing di dalamnya', maka segera aku pergi, tetapi aku merasa takut dan tidak kencing, lalu aku kembali kepada kedua orang itu. Langsung keduanya bertanya, 'Apakah sudah anda lakukan?1 Jawabku, Ya. Ditanya, 'Lalu anda melihat apa'. Jawabku, Tidak melihat apa-apa. Berkata kedua orang itu, 'Anda tidak kencing, karena itu lebih baik anda kembali dan jangan kafir'. Tetapi saya tidak mau menerima nasihat itu dan tetap ingin mengetahui, maka kedua orang itu hanya berkata, 'Kembalilah kencing di diang api itu'. Maka aku pergi ke tempat api itu. Tiba-tiba berdiri bulu romaku dan aku merasa takut, lalu aku kembali kepada kedua orang itu sambil berkata, Sudah aku lakukan. Maka aku di-tanya lagi, 'Apakah yang anda lihat?' Jawabku, Tidak melihat apa-apa. Berkata keduanya, 'Anda belum berbuat, lebih baik anda pergi saja ke negeri dan jangan kafir sebab anda masih beriman. Tetapi saya menolak dan tetap ingin belajar, maka ia berkata, 'Pergilah ke diang api dan kencing di sana'. Maka aku pergi dan kencing di diang api itu, tiba-tiba aku melihat seseorang bertopi baja keluar dari badanku dan naik ke langit sehingga tidak terlihat, lalu aku pergi kepada kedua orang itu, untuk menyatakan bahwa aku telah berbuat apa yang diperintah. Lalu ditanya. 'Lalu apakah yang anda lihat? Jawabku, Aku melihat orang yang berpakain besi keluar dari badanku naik ke langit sehingga tak terlihat olehku. Jawab keduanya, 'Benar, itu imanmu telah lepas dari padamu'. Lalu aku berkata kepada wanita yang membawaku tadi, Demi Allah aku tidak di-ajari apa-apa dan tidak tahu apa-apa. Jawab wanita ilu, Benar, anda kini telah jadi, apa yang anda inginkan pasti terjadi, cobalah anda ambil sebiji gandum, perintahkan supaya tumbuh niscaya tumbuh, kemudian diperintahkan berbuah, maka berbuah-lah, kemudian diperintahkan untuk diketam, kemudian dikeringkan, kemudian diperintahkan menjadi tepung, kemudian diperintah menjadi roti dan segera berupa roti. Ketika aku melihat semuanya itu terasa menyesal aku dan merasa tiada berguna semua itu. Demi Allah hai ummul mukminin aku belum mempergunakan ilmu sihir itu untuk apa pun, dan tidak akan aku pergunakan untuk apa pun juga."
Di lain riwayat ada tambahan, "Maka ia berusaha menanyakan hal itu kepada sahabat-sahabat Rasulullah saw. yang ketika itu masih banyak, tetapi semuanya takut dan khawatir untuk menjawabnya atau memberikan fatwa terhadap masalah yang mereka belum mengetahui hukumnya."
Hisyam bin az-Zubair berkata, "Sahabat Nabi dahulu itu orang-orang ahli wara sangat takut kepada Allah, tetapi coba ia datang sekarang tentu ada orang yang berlagak memberi fatwa."
Riwayat ini sanadnya kepada Siti Aisyah r.a. baik kuat.
AI-Hasan al-Bashri berkata, "Telah diturunkan kepada kedua Malaikat ihi ilmu sihir untuk menguji manusia bagaimana kepereayaan mereka terhadap agama dan sihir itu."
Sebagian ulama berpendapat dengan ayat ini, bahwa orang yang mempelajari sihir menjadi kafir, sebagaimana Nabi saw. bersabda:
Siapa yang datang kepada dukun atau ahli sihir lalu percaya kepadanya maka ia kafir pada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. (HR. al-Bazzar, sahih).
Jabir bin Abdullah r.a. mengaiakan bahwa Nabi saw. bersabda:

Setan (iblis) membangun istananya di atas air, Kemudian mengirim pasukannya kepada manusia, maka setan yang terdekat pada iblis itu ialah yang terbesar gangguannya kepada manusia, jika datang seorang dari mereka ditanya, "Apakah yang anda lakukan." Maka dijawab, "Aku tidak meninggalkannya kecuali sesudah berkata begini dan begitu. "Iblis berkata, "Demi Allah anda belum berbuat apa-apa". Lalu datang yang lain berkata, "Aku tidak meninggalkan mangsaku kecuali setelah dapat memisahkan antara suami dengan istrinya ", maka didekaplah setan ini oleh iblis sambil dipuji, "Andalah yang benar-benar telah berjasa". (HR. Muslim).
Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa seorang yang melakukan sihir adalah kafir berdasarkan ayat: "Walau anna-hum aamanu wattaqau". (103).

Sebagian yang lain berkata, "Tidak kafir tetapi dihukum bunuh, sebagaimana riwayat asy-Syafii dan Ahmad bin Hanbal dari Amr bin Dinar telah mendengar Bajalah bin Abdah berkata, Umar bin al-Khathab r.a. menulis surat kepada gubernur-gubernurnya, "Bunuhlah setiap orang yang melakukan sihir baik laki-laki atau perempuan". Sehingga telah terbunuh tiga orang pelaku sihir. (R. Bukhari).
Juga Hafshah binti Umar r.a. ketika ia disihir oleh budak perempuan, maka ia memerintahkan supaya dihunuh budak wanita itu.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Terdapatlah hadis sahih dari tiga sahabat mengenai hukum bunuh terhadap orang yang melakukan sihir".

Jundub al-Azdi mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Hukum tukang sihir (pelaku sihir) ialah dipenggal dengan pedang. (HR. at-Tirmidzi).
Diriwayatkan: Terjadi di tempat al-Walid bin Uqbah, seorang ahli sihir bermain-main. Maka ia memukul kepala seseorang sehingga terlepas, kemudian ia berseni dan kembalilah kepala itu, sehingga penonton mengatakan, "Subhanallah dapat menghidupkan orang mati", kemudian dilihat oleh saorang dari sahabat Muhajirin, dan pada esok harinya kembalilah ia menyandang pedangnya dan ketika ia melihat tukang sihir (sulap) itu memainkan permainannya, segera dipenggal leher tukang sihir itu sambil berkata, "Jika ia benar, suruhlah ia menghidupkan dirinya sendiri". Lalu sahabat itu membaca ayat, 'Afa ta'tuunas sihra wa antum tub shiruun' = Apakah kalian mempermainkan sihir, sedang kalian melihatnya".

Maka marahlah raja al-Walid karena tidak minta izin ketika akan membunuhnya, sehingga memenjaranya, kemudian tidak lama dilepaskan kembali. Wallahu alam.
Imam Syafii menanggapi riwayat Umar dan Hafshah r.a. jika sihir itu mengandung syirik.
Pasal
Ar-Razi berkata, "Kaum Muktazilah tidak percaya (mengingkari) adanya sihir, bahkan mereka mengkafirkan orang yang percaya adanya sihir."
Adapun Ahlus Sunnah mereka berpendapat ja'iz (mungkin) adanya sihir seperti dapat terbang di udara, atau mengubah bentuk orang, hanya mereka berkata', "Bahwa semua itu sekehendak Allah, dan bukannya ilmu itu yang dapat menjadikan semua itu, atau bintang-bintang atau lain-lainnya,"
Berbeda dengan pendapat filosuf-filosuf, ahli nujum dan kaum shabi'in. Ahlus Sunnah berdalil dengan ayat: "Wa maa hum bi dhaar riin bihi min ahadin ilia bi iznillah = Dan mereka tidak dapat membinasakan orang kecuali dengan izin Allah". Juga hadis yang meriwayatkan bahwa Nabi saw. terkena sihir. Juga kisah wanita yang datang kepada Aisyah r.a. yang menceriterakan bahwa ia telah belajar di Babil.ilmu sihir.
Abu Abdullah ar-Razi berkata, "Sihir ada delapan macam".
1. Sihir yang dibuat oleh tukang sulap dan kaum Kasydan penyembah bintang, yang mempereayai bahwa bintang itulah yang mengatur alam dan menentukan baik atau buruk. Dan Allah telah mengutus Nabi Ibrahim a.s. untuk membatalkan pendapat mereka.
2. Sihir dengan hipnotis dan kekuatan penglihatan dan perasaan hati. Karena itulah Rasulullah saw. bersabda:
Terkena mata itu memang benar, dan andaikan ada sesuatu yang dapat mendahului takdir niscaya pandangan mata itulah.
3. Sihir dengan bantuan jin atau ruh-ruh. Dan mereka ini terbagi dua: Ruh dan Jin mukmin dan kafir.
4. Sihir (sulap) dengan mempengaruhi pandangan mata, karena pandangan itu ada kalanya salah, maka pelaku sihir berusaha mempengaruhi penonton dengan suatu pandangan dan suara, sehingga mereka tidak memperhatikan ulah si tukang sihir, karena sudah terpengaruh oleh pandangan dan suara lain. Sebagaimana tersebut dalam ayat: "Yu khayya lu ilahi min sih-rihim annaha tas'a = Terbayang kepadanya karena sihir mereka, seakan-akan tongkat dan tali itu berjalan".
5. Sihir yang dibuat dengan alat-alat, sebagaimana yang di-lakukan oleh ahli sihir Fir'aun ketika mereka memulas kayu tongkat dan tali-tali mereka dengan air raksa, sehingga terlihat pada orang seakan-akan bergerak.
6. Sihir yang dilakukan dengan obat-obatan dan makanan untuk kebal dad sebagainya.
7. Sihir yang dilakukan dengan kata-kata, mantra-mantra.
8. Sihir dengan mempengaruhi orang yang lemah dengan sesuatu yang dapat menimbulkan kekuatan gaib, padahal tipuan semata-mata.
Ai-Qurthubi berkala, "Sihir itu ada hakikat kenyataannya. Sedang golongan Muktazilah dan Abu Ishaq al-Isfarayini dari ulama Syafiiah berpendapat bahwa sihir sekedar mempengaruhi dan khayal.
Pasal
Mempelajari sihir, Abu Hanifah, Malik dan Hanbal berpendapat kafir orang yang mempelajari sihir. Terutama jika
merasa bahwa ilmu itu boleh dipelajari atau berguna, juga jika ia pereaya bahwa setan dapat berbuat sekehendaknya.
Asy-Syafii berkata, "Jika seorang belajar sihir, maka kami tanya bagaimana sihirmu?" Jika ia menerangkan apa-apa yang menyebabkan kufur sebagaimana kepereayaan orang Babil, atau percaya pada bintang-bintang maka ia kafir, demikian juga jika ia menganggap boleh melakukan sihir maka ia kafir. Maka jika membunuh orang dengan sihirnya maka dihukum bunuh sebagaimana hukum had atau qishash.
Soal
Apakah boleh tukang sihir diminta untuk mengobati sihirnya?
Said bin al-Musayyab memperbolehkan sebagaimana diri-wayatkan oleh Bukhari. Amir asy-Sya'bi itu berkata, "Tidak apa-apa berobat pada ahli sihir". Al-Hasan al-Bashri memakruhkan itu, sedang dalam hadis Aisyah r.a. berkata kepada Nabi saw., "Apakah engkau tidak meminta kepada penyihir supaya membuka sihirnya?" Jawab Nabi saw., "Adapun Allah telah menyembuhkan aku, dan aku khawatir membuka jalan yang tidak baik pada manusia".
Al-Qurthubi meriwayatkan dari Wahb untuk obat sihir, "Diambil tujuh helai daun bidara lalu ditumbuk halus lalu diberi air dan dibacakan ayatul kursi, dan diminumkan pada orang yang terkena sihir tiga teguk dan sisanya digunakan mandi. Insya Allah akan hilang sihirnya."
Dan yang utama dibacakan Qul A'udzu birabbil falaq, Qul A'udzu birabbinnaas, juga ditambah dengan ayatul kursi untuk mengusir setan.
 
 

Kuliah Ustaz Razi

kenali fadhni

Al-Quran

 

Laman Web

googlefacebookgmailtwinyoutube

 

Waktu Solat

Maklumat Pengunjung

Hari Ini162
Yesterday225
This week1204
This month5173
Jumlah Pelawat633150

Saturday, 28 November 2020 17:38

Tentang Al-Fadhni

Sekolah Tahfiz dan Rumah Anak Yatim Al-Fadhni adalah sebuah pusat sehenti yang berfungsi sebagai pusat pendidikan integrasi kepada umum dan pusat pentarbiyahan anak-anak yatim yang berteraskan Al Quran sepenuhnya.

 

Sumbangan di Alu-alukan

  • Terima Kasih atas Sumbangan anda

    No. Akaun : 1276 0000 1451 00 (CIMB) atas nama Wadul Fadhni Management

    Atau No. Akaun : 8600907559 (CIMB) Atas Nama MAAHAD TAHFIZ AL FADHNI

  • 1

Hubungi Sekolah

D/a Masjid Al-aman 

Kg Lembah Jaya Selatan,
68000 Ampang, Selangor Darul Ehsan

  This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  013 2936733
03 4291 4852
  Ampang, Selangor
 
Cawangan Sungai Lui:
Sekolah tahfiz Al-Fadhni
PT5483. kg.Sungai lui, Batu 23 1/2,
Hulu Langat, Selangor